‘Agen yang Baik’

Sebelum semuanya lupa, lebih baik jika dituliskan. Lupa itu sering kali menghadirkan rasa ‘tak enak hati’ ketika kita tahu bahwa kita melupakan sesuatu. Dan saya sangat membenci perasaan ‘itu.’
Oke, kali ini tentang menjadi ‘Agen yang Baik’ #lupa redaksi pas nya. Banyak hal yang bisa mengindikasikan bahwa kita telah menjadi ‘Agen yang Baik’ itu. Ramah, murah senyum, peduli, dan banyak lagi. Dan yang akan saya bahas malam ini adalah ‘peduli.’ #hasil telponan with my Twin. 😀
Iya, peduli. Simpel sekali. Peduli itu sikap memikirkan orang lain seperti memikirkan diri kita sendiri atau bahkan lebih lagi #ini versi saya. Hampir sama dengan simpati #dalam arti sebenarnya alias bukan iklan. Dan salah satu bentuk kepedulian itu adalah berusaha menjadi ‘pendengar’ yang baik untuk setiap hal yang dilontarkan kepada kita. Iya semua hal, penting atau tidak penting. Memang terkadang banyak sekali hal-hal yang tidak penting menurut kita, namun sangat penting bagi orang yang menceritakan hal itu pada kita. Lantas akankah kita abaikan ia ? #seperti kerikil. Jika ia, maka misi menjadi ‘Agen yang Baik’ akan mendapat poin minus. Karena kita telah mengabaikan satu hal, yang mungkin memang kecil bagi kita namun itu besar bagi orang lain.
Intinya bagaimana kita bisa menjadi orang yang selain mendengarkan juga bisa menghargai setiap apa yang disampaikan orang lain kepada kita. Meskipun hanya dibalas dengan senyuman dan permintaan maaf karena kita tak tahu harus memberi solusi apa atas permasalahan yang ia hadapi. Lagi-lagi simpel, hanya mendengarkan, menghargai dengan tanggapan, atau paling tidak diberi senyuman. Mudah bukan ?
Jadi, mulai sekarang mari berusaha menjadi pendengar yang baik. Yang tidak hanya mau didengarkan dan diberi solusi, namun juga mau mendengarkan dan memberi solusi. Harus lebih aktif lah, bukan kah memberi lebih baik dari pada menerima ? Bukankah Allah memberi kita dua telinga satu mulut agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara ?
Dan satu lagi, jika seseorang meminta pertolongan yang itu sangat-sangat sepele untukmu. Maka jangan sepelekan itu, karena ia telah memberikan kepercayaan padamu untuk melakukan hal yang besar bagi dirinya. Tetap semangat, tetap berusaha menjadi ‘Agen yang Baik’ yang menebarkan kebaikan di mana saja berada.

Yang dirindu. . .

Sudah lima setengah tahun yang lalu, sejak beliau meninggalkan kami. Namun setiap kali berkunjung ke sana #Semendo, selalu saja teringat akan dirinya dan segala sesuatu yang biasa beliau lakukan.

Ya, mungkin ini rindu. Atau bukan mungkin lagi. Ini memang rindu. Merindukan sosok bersahaja yang seyumannya begitu menentramkan hati. Peci putih, sarung, dann sendal khas beliau. Kebiasaan beliau duduk di dekat perapian. Sesekali menimpali percakapan dengan suara khas nya.

Yang selalu berangkat ke masjid ketika menjelang magrib. Yang paling menyayangi kucing peliharaan di rumah. Yang rela memberikan makanannya #meskipun sedikit kepada kucing peliharannya. Yang dengan kecap asin dan mentega saja bisa makan lahap. Yang sering mendadak berhenti makan karena tersedak. Yang di atas pangkuannya #dulu aku sering duduk manis. Yang pernah berpesan agar aku punya mobil, supaya bisa mengantarnya kemana saja. Yang di akhir usianya masih hapal betul nama-nama kami. Yang di akhir usianya masih sempat menanyakan keadaanku, bahkan berkata ingin bertemu denganku. Yang di akhir usianya Allah masih sempatkan aku untuk mengurusnya. Walau hanya sekedar  menyuapinya minum dan memoleskan mentega ke bibirnya karena bibirnya terlalu kering. Yang diamnya tanda cinta.

Ya, sosok yang tak banyak bicara. Namun tatapan matanya sudah lebih dari cukup mengungkapkan bahwa beliau begitu mencintai kami.

Lima setengah tahun sudah Nek Nang meninggalkan kami, tapi apa pun tentang Nek Nang akan selalu teringat. Nasihat Nek Nak untuk terus sholat lima waktu dan untuk menggapai cita-cita kami, InsyaAllah akan kami jalankan Nek.

Kami mencintai Nek Nang. :*

Ini tentang Novel Amelia karya Bang Tere Liye Part 2

Lanjut lagi, karena terlalu banyak kalmat-kalimat inspiratif yang dituangkan Bang Tere dalam ‘Amelia’-nya, sampai-sampai harus ada Part 2 #hehehe. Menambah daftar penulis yang ku suka, setelah Andrea Hirata, Kang Salim A. Fillah, dan terakhir Bang Tere Liye. Ingin menjadi penulis seperti mereka. Dan menepati janjiku 1 tahun yang lalu. #Semoga terwujud, Aaminn.

Kalimat inspiratif itu :

“Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelah, mansinya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang.” –Nek Kiba, Nasihat dari Imam Syafi’i.

“Jangan terlalu didengarkan, Amel. Sepanjang kau tahu persis apa yang kau lakukan, cakap orang lain tidak perlu terlalu dimasukkan ke dalam hati.” –Mamak, nasihat untuk Amelia ketika pembibitan kopi.

“Tidak ada ukuran terlalu muda untuk membuat perubahan.” -Kak Bujuk, ketika menyemangati Amelia tentang pembibitan kopi.

“Setiap perubahan membutuhkan proses panjang. kadang proses itu mudah dilakukan, bahkan menyenangkan. Kadang sebaliknnya, menyakitkan, makan hati, Karena orang-orang sudah terlajur nyaman, terbiasa. Namanya juga diminta berubah. Anak kecil pun melawan saat diminta berubah. Siapapun yang tidak mengambil langkah pertama untuk memulai sesuatu, maka dia tidak akan pernah melihat hasil dari sesuatu tersebut.” -Paman Unus, nasihat untuk Amelia dkk.

“Negeri ini lebih membutuhkan anak-anak yang bisa menyerbu rumah-rumah dengan tulisan yang baik, lagu yang menginspirasi, pun dengan lukisan-lukisan yang menentramkan, memberikan rasa damai dan semangat.” -Wak Yati, tentang cita-cita Chuck Norris

“Bertani adalah proses panjang penuh kesabaran. Petani yang baik adalah yang paling tawakal dalam setiap urusan.” -Paman Unus.

Ups, ada bagian yang ku tebalkan. Itu kalimat yang paling membuat ku semangat menulis. Semoga mengisnpirasi yang lain, 🙂

 

Ini tentang Novel Amelia karya Bang Tere Liye Part 1

Rekomendasi buat yang hobi baca novel, novel berjudul Amelia ini benar-benar memberikan gambaran yang jelas tentang karakter anak hebat bernama Amelia. Mungkin banyak Amelia dalam kehidupan nyata, namun kita yang kurang menyadari itu terkadang memberikan perlakuan yang justru akan menutupi kehebatan yang mereka miliki. Bagaimana pentingnya hubungan dengan Allah, bagaimana menjadi orang tua yang baik, bagaimana menjadi guru yang tak hanya menunaikan kewajiban, bagaimana menjadi seorang sahabat sejati,bagaimana buah dari berpikir dan berkata positif itu indah, dan banyak lagi diajarkan secara tersirat dalam Novel ini, 

Nb : For my Twin yang ternyata juga penggila novel. Kalo mau tu cuplikan novel Amelia, baca dulu yang ini, InsyaAllah semakin memantapkan. 😀

Kalimat inspiratif yang begitu ku senangi dari Novel Amelia :

“Dunia orang dewasa tidak selurus dunia anak-anak yang lima menit bertengkar, lima menit kemudian sudah kembali bermain bersama. Kau tahu, dunia orang dewasa bagai sebutir bawang merah, berlapis-lapis ego, keras kepala oleh argumen, bertumpuk pembenaran dan hal-hal lain yang boleh jadi tidak akan kau pahami sekarang,” -Ayah, ketika Amelia bertanya tentang keluarga Chuck Norris

“Karena kau harus tahu, air mata dari seseorang yang tulus hatinya, justru adalah bukti betapa kuat dan kokoh hidupnya.” -Ayah, ketika Amelia menangis.

“Berpikir positif dan menghibur diri selalu efektif membuat perasaan kesal berubah jadi riang.” -Amelia, ketika Chuck Norris menghilangkan bukunya.

“Bersabar juga ausaha terbaik. Terus peduli dan membantu. Cepat atau lambat keajaiban akan tiba. Dan ketika tiba, bahkan tembok yang paling keras pun akan runtuh. Batu paling keras pun akan berlubang oleh tetes air hujan kecil yang terus menerus.” -Pak Bin, ketika memberikan semangat pada Amelia.

“Banyak hal di dunia ini yang  memang tidak kita ketahui. Maka saat kita tidak tahu, bukan berarti kita berhak menyimpulkannya semau kita. Ada banyak hal di dunia ini yang terlihat jahat, menyakitkan, tapi itu boleh jadi karena kita tidak tahu, belum mengerti.” -Nek Kiba, Guru Mengaji Amelia dkk.

“Selalu ada keajaiban bagi orang yang bersabar.” -Pak Bin

“Apakah doa bisa mengubah sesuatu ? Apakah doa bisa terwujud menjadi sebuah bala bantuan tidak terbilang yang langsung dikirim dari langit ? Maka jawabannya adalah iya, Nak. Doa adalah benteng pertahanan terbaik. Doa juga sekaligus senjata terbaik bagi setiap muslim. Rasulullah tidak mengirim pasukan untuk mencari si Salim (Anak Auf bin Malik yang diculik), mengejar penjahat itu. Atau mengirim pengintai terbaik agar si Salim bisa ditemukan dan dibebaskan. Rasulullah hanya mnyuruh Auf bin Malik banyak-banyak mengucapkan kalimat ‘Tiada daya dan kekuatan melainkan (atas pertolongan) Allah yang Mahatinggi dan Mahaagung.’ Diucapkan dengan sungguh-sungguh, maka jadilah kalimat itu sebuah doa terbaik yang pernah ada.” -Nek Kiba, ketika menasihati Pukat dan Burlian yang hendak disunat.

“Ketika kita pergi melihat dunia luar, maka kita akan menemui tempat baru, teman-teman baru, pengalaman baru, kesempatan baru. Maka, jangan pernah bersedih.” -Pak Bin.

“Hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayala, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat.” -Wak Yati, nasihat untuk Ayah Amelia.

“Tapi kehidupan ini dalam situasi tertentu hanya tentang pilihan. Ketika dua pilihan sama baiknya tiba, maka sesungguhnya lebih mudah lagi memutuskannya.” -Wak Yati, nasihat untuk Amelia.

“Sejauh-jauh kau pergi, setinggi apa pun mimpi kau, Amel, kau tetap tidak bisa melupakan hakikat seorang perempuan. Menjadi istri, menjadi ibu dari anak-anak kau kelak. Pun sama, termasuk sejauh-jauhnya kau pergi, melihat dunia, rumah kita tetap di sini. Tanah kelahiran, tempat dibesarkan.” -Wak Yati, nasihat untuk Amelia.

“Mamak orang yang terakhir bergabung di meja. Dialah yang terakhir menyedok sisa gulai atau sayur. Yang kehabisan makanan. Mamak yang terakhir kali tidur, setelah semua tidur. Mamak yang terakhir berjanka istirahat, setelah semua istirahat. Mamak selalu terakhir dalam setiap urusan. Dan Mamak juga yang selalu pertama dalam urusan lainnya. Dia yang pertama bangun. Dia yang pertama membereskan rumah. Dia yang pertama kali ada saat kami terluka, menangis, sakit. Dia yang pertama kali memastikan kami baik-baik saja. Mamak yang selalu pertama dalam urusan itu. ” -Amelia, tentang Mamak.

“Mamak kau pastilah paham sekali. Cinta itu tidak harus memiliki, tidak harus mengekang. Karena dengan begitu justru kita membuat arti cinta itu jadi dangkal. Semua orangtua selalu bersedia melepas anak-anaknya pergi, neski itu membuatnya amat sedih, kehilangan.” -Wak Yati, tentang kepergian Eliana ke kota.

“Dalam urusan apapun penting sekali memiliki ilmunya. Maka, anak-anak sekalian, tuntutlah ilmu sejauh mungkin, rengkuh dia dari tempat-tempat jauh, kumpulkan dia dari sumber-sumber terbaik, guru-guru yang tulus, agar terang cahaya kalian, terang oleh ilmu itu. Jangan bosan karena waktu. Jangan menyerah karena keterbatasan. Jangan malu karena ketidaktahuan. Kalian adalah anak-anak terbaik yang dimiliki kampung ini.” -Nek Kiba, nasihat untuk Amelia dkk.

To be continued. 😀

Gambar

er i RI eN de u DU

Kali ini tentang rindu. Iya rindu. Perasaan yang kerap mendera setiap orang yang lama tak bertemu. Tapi kali ini beda. Perasaan ini terus hinggap meski sering bertemu. Sering mengetahui kabar dan kegiatan masing-masing. Ya, aneh memang. Namun aku tetap yakin rindu ini dari Allah. Untuk ku kepada orang-orang yang Allah tunjuk untuk menemani, melengkapi, menasihati, dan menjadi saudara terbaik dalam hidupku.

Lagi-lagi tentang rindu, rindu yang seringkali membuncah tak tahu malu. Ditengah orang ramai, di dalam travel, ditengah perbincangan, dan dimana-mana. Selalu muncul. Dan perasaan lain pun ikut bergabung ketika ia muncul. Mengapa ??? Aku sendiri pun tak tahu. Lagi-lagi ini aku harap sebagai anugerah Allah untuk ku kepada orang-orang terbaik dalam hidupku.

Lagi-lagi tentang rindu, ini bukan rindu biasa sepertinya. Bangun tidur, duduk, berdiri, selalu teringat. Benar-benar tak tahu malu. Sering benar menghampiri diri ini. Dan lagi-lagi, perasaan lain ikut menghapiri ketika ia datang. Dan aku lagi-lagi berharap ini anugerah, ya anugerah untuk hatiku yang mungkin terlalu keras, terlalu acuh, hingga dengan rindu ini Allah mencairkannya.

Dan lagi-lagi, rindu ini membuatku lebih semangat. Semangat melakukan yang terbaik untuk ku dan untuk orang-orang disekitarku. Apa pun, ya apa pun, aku berikan yang terbaik untuk siapa pun yang aku temui saat ini. 

Dan lagi-lagi, rindu ini memberi ku energi positif berlipat ganda. Seolah tak ada lelah dalam diri untuk terus berkarya. Harapku, tetap hadirkan rindu ini dimanapun Ya Allah. Agar apa yang ku lakukan hari ini tak hanya untuk hari ini, tapi untuk esok, lusa, tahun depan, bahkan puluhan tahun lagi.

Terimakasih telah menjadi perantara Allah untuk hadirkan rindu ini selalu dalam hatiku. Berharap Allah menjaga kalian untukku, karena aku mencintai kalian karenaNya, karena aku berharap ini tak hanya di dunia, karena aku tak tahu lagi harus berkata apa tentang kalian. Kalian harta terbaik yang ku punya, harta terbaik yang Allah izinkan untuk aku miliki.

AUF :*

Kali Ini tentang Momen Indah di Rumah

Ini tentang momen-momen indah yang sangat dirindukan, tak akan pernah terlupa, tak bisa digantikan. Ya, momen itu hanya bisa ku temui di rumah tercinta. Bersama Ibu, Bapak, Adik, dan Keponakan. Libur kali ini tanpa Kakak. Ya, harus dibiasakan. Bisa dikatakan sudah biasa melewati hari-hari tanpa kakak, tapi tetap ada yang kurang. Usilnya itu lho, yang buat jadi rindu. *Semoga kakak selalu dalam naunganNya. #tetiba mendung di mata.

Khususnya hari ini, dari pagi hari sudah banyak sekali momen indah yang akan ku ingat selalu #semoga. Mulai dari kelaparan pagi hari, kemudian Ibu masak nasi goreng super banyak karena ada yang kelaparan. #rejeki pagi hari. Dilanjutkan ngobrol bareng Ibu tentang kebiasaan pelupa Bapak, jadi buat ketawa-ketiwi bareng. Saat Ibu buru-buru berangkat ke sekolah, eehh bapak malah lupa meletakkan kunci motornya, setelah diingat-ingat ternyata kunci motor ada di dalam rumah yang keadaannya sudah terkunci rapat, dan yang buat sesuatu itu, yang ngunci rumah ya Bapak sendiri. #heheh, tapi tetep cinta deh sama Bapak.

Belum lagi waktu Ibu minta dianter ke pasar. Saat Ibu siap-siap, Bapak wara-wiri menyiapkan peralatan kerjanya #maklum di rumah sedang ada misi. wkwkw. Dengan kostum lengkap, pakaian stel dalam dan jaket kesayangan. Yah, memang begitu Bapak, selalu rapi. Hanya dalam keadaan tertentu saja bisa dikatakan agak amburadul #hanya agak, tapi tetep sayang kok. Saat Ibu sudah siap, eehh, malah Bapak yang punya kerjaan, jadi Ibu harus menunggu. Aku menoleh ke arah Ibu, kode, dan kami cukup tersenyum saling mengerti apa arti kode itu.

Sepulang dari pasar, dapat tugas yang sebenarnya aku kurang suka. Namun karena Ibu menemani, semuanya jadi lebih indah #melebai dikit. Karena sembari melakukannya aku bisa belajar banyak. Setelah itu, jelas yang kami lakukan adalah memasak. Ini selalu jadi favorit ku di rumah #kalo di kostan ??? :D. Masak bareng Ibu itu TOP BANGET. Tak ada duanya deh, sambil cerita banyak hal, berbagi ilmu mulai dari sekolah sampai perdapuran, dan semuanya. Ibu di kompor kanan, aku di sebelah kiri. Semuanya terasa ringan dan indah jika bersamanya. 

Belum lagi soal diskusi dan bincang-bincang hangat bersama Bapak tercinta. Tentang UKT, Bapak sedikit banyak paham karena cerita ku #karena Allah yg membuat paham melalui ceritaku lebih tepatnya. Perbincangan tentang judul skripsi dengan Ibu, tentang model pembelajaran, tentang rapor, tentang RPP, dan banyak hal. Sungguh rencana Allah itu tak akan yang bisa menandingi. Selalu indah, tepat sasaran, tanpa ada kebetulan. 

Momen indah yang satu lagi adalah ketika sore hari saat sebelum ashar tiba, mempersiapkan cemilan sore, lagi-lagi bersama Ibu. Semuanya terasa luar biasa. Tak ku temui di Kota Butiran Debu sana #tetiba inget my Twin dan Kajep tersayang. Akan ku ingat momen-momen indah ini, akan aku catat di dalam hati dan pikiran ku. #semoga selalu ingat.

 

Cerita indah dibalik Drama Tari hari Jum’at itu…

Ini tentang pementasan seni tari yang berjalan dengan sukses, #menurutku.

Aku lupa persisnya tanggal berapa, saat itu kami MID Seni Tari di kampus KM 5 Palembang. Disaksikan oleh mahasiswa PGSD 2011 Kampus KM 5 dan mahasiswa asing yang kuliah di KM 5. Bagaimana rasanya, jangan ditanya. Jawabannya campur-campur #persis judul acara televisi yang lagi booming sekarang. Dengan persiapan seadanya dan gerakan super sederhana #karena tariannya anak-anak SD sekali, kami mulai menampilkan tarian. Dan terlihat penonton dengan beragam ekspresi, datar, terseyum, tertawa, berbisik-bisik, saling lirik, de el el. Dan tentunya yang membuat semakin gugup, ekspresi datar sang dosen. Seolah apa yang kami kerjakan tak sesuai dengan keinginannya. Namun, dosen mata kuliah ini baik, sangat baik. Terutama saat memberikan penilianan untuk pementasan seni tari yang telah kami lakukan #nanti akan ku ceritakan.

Setelah semua penampilan selesai, kami dikumpulkan. Momen ini sangat jarang terjadi, mahasiswa PGSD Reguler dan PGSD Ekstensi bergabung, dalam satu tempat. Dosen memberi tugas UAS pementasan seni tari yang menggambarkan kisah-kisah yang pernah terjadi di Sumatera Selatan. Bisa dikatakan tugas UAS kami berbentuk drama tari. Kami langsung memikirkan kisah apa yang akan kami angkat. Singkat cerita, akhirnya kami putuskan untuk mementaskan kisah “Dayang Merindu.” Kisah ini kami dapatkan dari buku kumpulan cerita Sumsel di Ruang Baca FKIP.

Tim pementasan pun dibentuk, semuanya sudah mendapat tugas masing-masing. Dimulai dari casting dan pemilihan pemain, kemudian dilanjutkan latihan tarian, dan terakhir property semua berjalan lancar #itu yang aku lihat. Namun tak banyak yang ku berikan untuk pementasan ini. Dan ini yang sebenarnya ingin ku ceritakan.

Ketika masa-masa latihan, sering kali ku abaikan karena suatu hal yang menurutku urgent. Latihan jarang sekali ku ikuti dengan dalih tak bisa mengikuti proses latihan yang dilakukan teman-teman. Sebenarnya banyak usaha yang bisa dilakukan, tapi lagi-lagi ku lalaikan dengan alasan yang hanya beberapa orang bisa menerimanya. Dan aku tak pernah berusaha mengkomunikasikan ini kepada ketua pementasan.

Hingga di 3 hari terakhir persiapan, begitu total teman-teman mempersiapkan pementasan ini. Dan komunikasi itu baru berani ku lakukan di 3 hari terakhir. Semua teman-teman ternyata memaklumi apa yang aku lakukan di luar. Mereka tak pernah protes, hanya saja mereka butuh konfirmasi. Di sini aku tahu teman, kalian adalah hal luar biasa yang diberikan untuk ku. Untuk mengingatkan aku akan kesungguhan  menuntut ilmu. Allah hadirkan kalian sebagai tauladan untuk ku. Manajemen waktu, manajemen diri, dan semuanya, kalian lebih bisa. Dan semua itu baru ku sadari sekarang.

Terima kasih untuk waktu bersama yang begitu ku rindukan sekarang, menjahit kostum, menempel godam, menggunting glitter, berlarian mencari property di balik layar, berlari membersihkan panggung ketika lampu gelap tanda mengganti adegan, tarian, lagu pengiring, duduk melingkat sebelum dan setelah latihan, makan bersama, tertawa bersama, pusing bersama, saling menasihati, dan banyak hal.

Terima kasih untuk pengertian yang kalian berikan, untuk setiap salah yang kalian balas dengan senyuman, sungguh rasa bersalah itu masih ada teman. Maafkan atas kekuarangan diri ini, kalianlah alarm diri ini ketika terlalu asyik dengan dunia luar.

Teruntuk all PGSD 2011 Reguler, rasa bangga menjadi bagian dari kalian sunggh tak dapat ku sembunyikan, terima kasih atas goresan indah penuh makna dalam cerita hidupku. Kalian teman-teman luar biasa yang sejatinya selalu ada untuk ku kapan pun.

Aku mecintai dan menyayangi kalian karena-Nya.